Oleh : Heri Setio Aji

Apa cuma aku yang paling bodoh dikelas? jawabannya tentu tidak. Bisa jadi aku nomor dua dari bawah. Padahal jam belajarnya sama, bayarnya sama, lelah dan pusingnya juga sama, tapi aku heran mengapa setiap di akhir pelajaran aku hanya dapat menyimpulkan sekitar 15% saja dari total keseluruhan yang aku pelajari selama satu semester? Apa mungkin aku salah jurusan atau aku memang terlahir untuk jadi patokan supaya teman-temanku mendapat nilai tinggi. Padahal khan belajar bukan soal nilai, tapi pemahaman dari apa yang kita pelajari. Aku mulai bimbang, untuk apa aku belajar tapi yang kudapatkan hanyalah kehampaan


Pikiran-pikiran seperti ini terus membayangimu? pasti. Tidak ada yang tidak. Kamu tentu senang ketika kamu memperoleh nilai bagus pada mata kuliah tertentu, ditambah kamu mendapatkan ilmu dari apa yang kamu pelajari, atau setidaknya ada yang nyangkutlah sedikit. Tapi bagaimana bila yang terjadi justru sebaliknya. Misal ketika semua teman-temanmu memperoleh nilai bagus tapi kamu dan beberapa temanmu yang lain justru mendapatkan sesuatu yang tidak memuaskan, bukankah itu sama dengan melewati satu semester dengan proses yang buruk? kamu paham bagaimana pola belajarmu, bagaimana kamu dengan sekuatnya berusaha seperti teman-temanmu, tapi yang terjadi justru mereka semakin pintar lalu kamu menjadi barisan dengan tingkat pemahaman rendah yang berujung pada pembentukan opini publik dimana kamu kuliahnya tidak bener, nggak fokus, nggak mudengan, yang paling pedih yang dikatakan bodoh. Kamu akan senang dan bahagia melihat teman-temanmu tumbuh menjadi hebat. Tapi kamu akan sedih ketika mereka berkembang sementara kamu jalan ditempat karena terperangkap dalam kepungan ketidakpahaman. Beberapa mengatakan “ya sudahlah, setidaknya sudah berusaha”, sebagian mengeluh di instastory, sebagian memilih pasrah, sebagaian lagi sibuk memperbaiki apa yang salah dari dalam dirinya. Kalau kamu bagian dari tiga disebutkan diawal maka kamu akan tetap berada diposisi yang kamu rasakan saat ini, tapi kalau kamu adalah kelompok yang disebutkan terakhir ini adalah kesempatanmu merubah segalanya. Tidak ada kata terlambat ketika kamu belum memulai sesuatu. 

Pertanyaannya adalah, mulainya dari mana? 

1. Learning to learn 

Kamu pasti kesal setiap kali bertanya masalah pelajaran kepada temanmu, apalagi tugas kuliah, tapi mereka jawab belum mengerjakan tapi setiap tugas dikumpulkan dia justru yang paling komplit, rapi, dan benar. Sementara kamu semalaman suntuk begadang menyelesaikannya tapi hasilnya justru tidak sehebat temanmu itu. Apa yang salah? Kamu juga pasti pernah ketemu dengan orang yang sepertinya tidak pernah belajar, nongkrong terus, ada saja yang dikerjakan, instastory nya jalan-jalan terus, tapi dikelas justru termasuk golongan orang brilian dengan segudang ide dan pemahaman yang luar biasa. Pertanyaannya bagaimana semua itu bisa terjadi? bagaimana dan kapan mereka belajar? bagaimana dengan pola belajarmu yang harus berpusing berat tapi susah mencerna? Nah kamu harus mulai memahami diri, cuma kamu yang mengerti bagaimana cara memahami sesuatu. Kalau kamu tipe yang susah fokus ketika guru atau dosenmu memberikan pelajaran, maka tulislah note atau membuat catatan terkait apa yang telah kamu pelajari hari ini. Pemahaman akan pelajaran itu sebenarnya adalah tentang bagaimana cara kamu memanggil ingatanmu ketika tengah mempelajari sesuatu. Itu tidak bisa instan. Mungkin teman-temanmu memiliki daya ingat yang kuat karena semasa kecil terlatih untuk menghapal atau mengingat sesuatu, sementara kamu tidak, oleh karena itu buatlah catatan. Kamu juga bisa membuat mapping semacam diagram-diagram yang saling berkaitan dan hanya kamu sendiri yang paham maksudnya dimana itu justru akan melatih otak bekerja dengan baik. Pola belajar itu yang harus kamu pelajari. Menentukan pola belajar terbaik adalah dengan mencari tahu dengan cara apa kamu bisa nyaman ketika belajar. Teman-temanmu kadang hanya butuh waktu 2-3 jam untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, tapi kamu harus paham dulu kalau pola belajar mereka memang butuh waktu yang benar-benar luang sehingga bisa fokus dengan apa yang akan diselesaikan. Hal yeng terpenting adalah jangan berhenti untuk terus belajar.


2. Open yourself for help
 

Berhenti berkumpul dengan teman-teman yang tidak berkontribusi dengan pola belajarmu. Tahukah kamu kalau orang cenderung akan nyaman berada diantara kelompok yang ‘memiliki nasib yang sama’ lalu berusaha membuat kelompok tersebut menjadi seasyik kelompok lain. Jadinya ya kamu terjebak dalam kepungan orang-orang yang sama-sama memiliki masalah dengan pola belajar sepertimu. Bisa saja mungkin salah satunya ada yang menjadi penyelamat karena masih memperhatikan dalam pelajaran, tapi tidak cukup, karena rupanya diapun pusing untuk menemukan kesimpulan dari apa yang dipelajari. Lalu bagaimana? Keluar sebentar dari kerumunan lalu temukan orang yang menurutmu bisa. Sebagian kamu enggan melakukan karena beberapa faktor, misal kamu takut nggak dibantuin, kamu enggan mengeluarkan kata-kata ‘help me’, atau kamu khawatir kelompokmu yang bernasib sama tadi akan memiliki pandangan negatif, dll. Kalau sudah begitu kamu akan kembali ke kelompokmu lalu memilih untuk tetap bernasib sama asal kesetiakawanan tetap terjaga. Kenapa kamu tidak mencoba membagi kepedulian akan diri sendiri dengan mencoba mendekati kelompok lain, ini soal belajar, pasti akan berbeda ceritanya. Katanya sih don’t let yourself trapped in the comfort zone, kamu harus berani melawan itu. Itupun kalau kamu mau berubah, kalau tidak ya kamu akan terus berada di posisi yang sama. 

3. Belajar dan Hangout ya beda! 

Beberapa temanmu terlihat belajar dengan asyik sambil berkumpul dengan kelompoknya di kafe, lalu kau terinspirasi dan mengumpulkan teman-temanmu untuk melakukan hal yang sama. Jangan. Bisa jadi mereka sudah melewati fase Learning to Learn atau jangan-jangan mereka belajar di kafe cuma gimmick padahal aslinya tugas mereka sudah selesai. Bisa menyesatkan. ALih-alih belajar waktumu malah habis untuk mengobrol, ngomongin temanmu yang lain, atau malah sibuk dengan smartphone karena ada ‘rasa sayang’ kalau ada wifi gratis tapi tidak digunakan. Lgi-lagi soal bagaimana pola belajar, jangan coba-coba meniru pola belajar orang lain untuk membuatmu terlihat sejajar dengan orang lain, tapi lakukan karena kamu nyaman disitu dan itu adalah cara terbaikmu. Pilih perpus atau ruangan di kampusmu untuk fokus belajar dengan teman-temanmu. Tidak ada musik, drama Korea, youtube, atau Instagram. Benar-benar belajar. Pas di kafe tinggal ketawa haha hihi sambil bahan lagi untuk mencoba mengingat apa yang sudah dipelajari. 

4. Berhenti menunda 

Jangan coba-coba berharap ada yang akan memberikan contekan kepadamu. Cobalah untuk mengerjakan secara mandiri. Gunakan internet sebagai cara untuk mendapatkan referensi. Buku yang kamu beli harus dibaca. Kalau tidak juga mengerti maka minta bantuan dengan bertanya. Sebagian orang nyaman untuk menunda sesuatu untuk mendapatkan bantuan yang tepat dari orang lain. Tidak jarang tugas minggu lalu kamu kerjakan satu malam sebelum deadline. Ini tidak baik ya. Karena ketika itu berulang kali dilakukan, kamu akan membuat tubuhmu terbiasa untuk terus melakukannya. Sisi negatifnya tentu saja kamu akan kelelahan, hasil tidak maksimal, belum ditambah dengan ada sedikit emosi lantaran temanmu mendadak menghilang ketika di whatsapp soal tugas kuliahmu. Ujung-ujungnya ya pasrah. Berapa kali kamu melakukan hal itu? kalau sering maka segeralah berubah. Ini tidak hanya soal tugas kuliah, karena ketika kamu sudah bekerja nanti, pola tersebut akan mengikutimu. Siap-siap saja akan jadi bahan omelan orang-orang, terlebih ketika nantinya kamu akan bekerja dengan orang-orang yang memiliki disiplin waktu dan integritas. Bisa jadi nanti tidak cuma jadi orang yang paling ekor dibelakang selama kuliah, tapi dikehidupan nyata juga tidak pernah dipandang lebih? 

So, apa yang akan kamu kerjakan selanjutnya? 

Silahkan tinggalkan komentar, saran, ataupun kritik pada tulisan ini, atau kamu punya sesuatu yang bisa dijadikan bahan untuk sharing? let me know…