Kerjasama Pendidikan Bahasa Inggris UMBY dan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia Selenggarakan Workshop Series #1 bertajuk Cultural Language Learning Approach: A Novel Approach for Language Pedagogy

(Yogyakarta, 3/5), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) berkolaborasi dengan Faculty of Technical and Vocational (FTV), Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) mengadakan gelar Workshop Series #1 yang bertajuk “ Cultural Language Learning Approach” dan yang dilaksanakan melalui platform Zoom pada hari Senin, 12 April 2021 lalu. Workshop ini menampilkan dua orang pembicara yaitu Dr. Dra. Hermayawati, S.Pd., M.Pd. yang berkolaborasi dengan Dr. Fardila binti Mohd Zaihidee sebagai penyedia teks dan Elysa Hartati, S. Pd., M.Pd. yang berkolaborasi dengan Dr. Dina Miza Binti Suhaimi sebagai penyedia teks dengan dipandu oleh Bayu Prasetyo salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), UMBY sebagai moderator.

Pada Workshop Series #1 ini Dr. Dra. Hermayawati, S.Pd., M.Pd. membawakan topik yang berjudul “Utilizing Wayang Orang and Malay Dance as Pedagogical Moral Values”. Beliau menuturkan tentang metode pengajaran Cultural Language learning Approach (CLLA) yang merupakan sebuah pendekatan warisan budaya tradisional seperti upacara adat (ceremonies), pertunjukan (art performances), bangunan (buildings), makanan & minuman (foods and beverages), cerita rakyat (folkstales), legenda (legends), cerita binatang (fables), lagu (songs), musik (musics), pusaka (heirlooms), pakaian adat (traditional clothings) dan permainan (games) yang dapat digunakan sebagai sumber materi dan  media pembelajaran sebagai salah satu upaya dalam pelestarian warisan budaya.

Lebih lanjut beliau juga menuturkan bahwa Language learning Approach (CLLA)  merupakan salah satu metode pengajaran yang telah memenuhi trend pengajaran bahasa saat ini dengan mewujudkan penggunaan bahasa terintegrasi, domain pembelajaran Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dengan dimensi pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif yang memungkinkan peserta didik dapat menggunakan High Order Level Thinking Skills (HOTS). CLLA dirancang dengan mengingat bahwa tidak banyak guru di dunia ini yang menyadari sisi positif ancestors heritages yang dapat digunakan sebagai media dan materi ajar yang ampuh. CLLA dirancang untuk menghormati eksistensi budaya lokal sebagai alat pembelajaran karena kaya akan manfaat dan dapat digunakan untuk mengeksplorasi kebutuhan siswa, institusi, masyarakat dan negara, bahkan dunia melalui pendidikan bahasa. CLLA dimungkinkan dapat meningkatkan learners language capacities in integrated manners, beside developing moral values for any level of studies di seluruh dunia,  jika diaktualisasikan.

 

Sebagai pembicara kedua Elysa Hartati, S. Pd., M.Pd. mengangkat topik dengan judul “Utilizing Cultural Heritage Buildings of Indonesia for Stirring Sense of Belonging” yang merupakan bagian topik dari CLLA. Menurut beliau guru adalah agen perubahan. Dengan memanfaatkan kearifan budaya lokal sebagai wacana (discourse) dalam pembelajaran bahasa, guru dapat sekaligus membantu melestarikan budaya lokal yang dipunyai suatu bangsa yang sarat dengan moral values melalui peserta didiknya.

 

Acara yang diikuti oleh para guru bahasa dari Sekolah Menengah Sains banting Selangor, Malaysia, SMK Khir Johari, Perak, Malaysia, SM Negeri Sembilan, Malaysia, kepala sekolah serta mahasiswa doktoral dari USIM Malaysia dan lain-lain ini masih akan dilanjutkan dengan Workshop Series #2 pada tanggal 19 April 2021 dan Sharing Sesion 26 April 2021 dengan teknik participants modeling. G.Sun-Ardhie

 

Written by 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.