MENJAGA DAYA TAHAN TUBUH DENGAN BERSEPEDA, SOLUSI TANPA POLUSI

oleh : Luky Kurniawan, Pesepeda dan Dosen Bimbingan dan Konseling UMBY

 

(Yogyakarta 29/8) Minggu yang lalu kota yogyakarta dihebohkan dengan banyaknya pesepeda yang memadati kawasan tugu, malioboro dan titik nol kilometer. Hal ini menimbulkan reaksi dan respon dari pemangku kepentingan maupun masyarakat. Seperti yang kita tau, bahwa saat ini kita sedang dihadapkan pada masa pandemi covid-19, dan sebagian daerah sedang menerapkan masa new normal dengan mengutamakan protokol kesehatan. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk mencegah penyebayaran virus corona, potret pesepeda memadati kota yogya itu menjadi hal yang kontradiktif dengan upaya pemerintah tersebut.

Beberapa hari yang lalu juga viral dengan unggahan pengendara mobil di media sosial yang mengeluhkan beberapa oknum pesepeda yang memenuhi badan jalan. Ketika ada pengendara lain yang menegur dengan maksud mengingatkan agar oknum pesepeda tertib berlalu lintas, kemudian menimbulkan reaksi oknum pesepeda berkata kasar dan memaki pengendara lain. Jika menggunakan kacamata obyektif oknum pesepeda tersebut tidak memahami etika berlalu lintas, akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa hal ini tidak bisa digeneralisir semua pesepeda menampilkan tidak memahami etika berlalu lintas dan memiliki personality kasar seperti itu. Masih banyak para pesepeda yang tertib berlalu lintas dan ramah kepada pengguna jalan yang lain.

Tiga permasalah di atas menurut saya dapat dianalogikan (Walaupun situasi dan kondisinya berbeda)  ketika oknum pesepeda motor yg melanggar rambu lalu lintas dan berkendara ugal-ugalan, oknum pengguna mobil yang pada saat musim penghujan dan liburan akhir tahun menimbulkan kemacetan di kota yogya. Menang sendiri, tidak mau mengalah dan seenaknya sendiri di jalan hanya akan membahayakan diri sendiri maupun pengendara lain. Terlepas dari Pro dan kontra meningkatnya aktivitas masyarakat untuk bersepeda selama pandemi covid-19 menjadi sebuah pilihan untuk menjaga daya tahan tubuh.  Bersepeda selama masa pandemi covid-19 dapat menjadi potensi bahaya jika protokol kesehatan dan etika berlalu lintas tidak dipatuhi. Kesadaran etika berlalu lintas dan toleransi sesama pengguna jalan menjadi solusi atas permasalahan di atas.

Meningkatnya aktivitas masyarakat untuk bersepeda juga menjadi modal untuk menjawab permasalahan pemanasan global (Global Warming) dan solusi mengurai kemacetan. Budaya bersepeda yang berkelanjutan (bike to work) setelah berakhir masa pandemi covid-19 dengan mengedepankan etika berlalu lintas akan banyak memberikan solusi tanpa polusi.

Written by 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.