Perlu Tindakan Preventif untuk Cegah Penyebaran Covid-19

(Yogyakarta, 15/06) Berapa banyak yang positif? Berapa lama pula masa pandemi ini akan berakhir? Dua pertanyaan klasik yang diutarakan oleh para ilmuwan dalam menghadapi kejadian luar biasa pandemi COVID-19. Berbagai model diangkat, berbagai metode digulirkan, berbagai hasil dipaparkan dalam banyak macam media. Ada yang bilang ribuan saja, puluhan ribu, hingga ratusan ribu masing-masing punya masa yang berbeda-beda. Mungkin khalayak bertanya, karya siapa gerangan yang dapat dengan tepat memprediksi kejadian ini?

Dalam tulisannya Arie Purwanto, S.Pd., M.Sc. dosen muda Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Mercu Buana Yogyakarta menuturkan bahwa para ilmuwan berusaha keras untuk menganggulangi kejadian pandemi COVID-19 ini. Salah satu yang dilakukan adalah memprediksi jumlah yang terpapar COVID-19. Sudah banyak model-model statistik yang diangkat untuk memprediksi berapa jumlah yang terpapar virus ini. Namun demikian ia kembali mengingatkan bahwa sedikit pandangan menarik dikemukakan oleh George E. P. Box seorang pemikir besar dibidang statistik dan digunakan model-model ilmiah pada umummnya bahwa “All models are wrong, but some are useful”. Berdasarkan aforisme tersebut sekiranya dapat dipahami bahwa model yang dibangun hanyalah bentuk perkiraan atas kejadian yang dimodelkan. Tidak ada model yang benar-benar tepat dan tegas menunjukkan kebenaran atas suatu. Namun demikan, adanya usaha dan upaya dalam menyusun metodologi, baik gagasan, asumsi-asumsi, dan ukuran kebaikan model sekiranya dapat meningkatkan keabsahan model sehingga dapat berguna. Yang jelas dari seluruh karya para ilmuwan khususnya pemodelan COVID-19 baik secara tersirat ataupun tersurat menyatakan bahwa harus ada tindakan preventif untuk mengurangi penyebaran.

Selain itu turut disampaikan bahwa kondisi normal yang diharapkan seperti sediakala kemungkinan tidak akan terjadi. Virus ini jelas merubah wajah dunia. Banyak opsi ditawarkan dalam menghadapi masa pandemi ini. Memaksimalkan atau berinovasi dengan teknologi komunikasi adalah contoh tindakan positif yang bisa dilakukan sembari menunggu hingga vaksin ditemukan. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan pilihan utama, mengigat beberapa sektor di bidang produksi, konsumsi, bahkan jasa yang belum mampu digantikan oleh teknologi. Memang mutlak adanya, pergerakan jadi syarat kedihupan. Maka dari itu, amatlah penting untuk membuat langkah-langkah cerdas dalam mengatur pergerakan. Keberadaan protokol kesehatan serta evaluasinya harus tetap terjamin baik kuantitas dan kualitasnya.

  • Penulis: Arie Purwanto, S.Pd., M.Sc. (Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mercu Buana Yogyakarta)

Written by 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.